Anak-anak selalu diminta untuk belajar, tetapi jarang diajari bagaimana caranya. Buku Learning How to Learn ini mengajarkan cara belajar tersebut dengan baik. Buku ini membantu untuk memahami cara belajar yang lebih efektif. Dalam buku ini praktik-praktik sederhana dan efektif disajikan untuk meningkatkan kemampuan dalam belajar agar lebih berdaya guna dan berhasil guna. Dilengkapi dengan ilustrasi, pertanyaan aplikatif, dan latihan, buku ini membuat belajar menjadi mudah dan menyenangkan.

      Barbara Oakley menulis Learning How to Learn bersama pengarang pendamping Terrence Sejnowski dan Alistair McConville. Terrence Sejnowski seorang pakar neurosains, bidang ilmu yang mempelajari sistem saraf yang ada di otak manusia. Sementara itu, Alistair McConville berpengalaman lama mengajar anak-anak, sehingga dia membantu agar tulisan Oakley dan Sejnowski tidak terlalu formal dan mudah dipahami.

Para pengarang Learning How to Learn menyusun buku unik ini dalam 16 bab. Di bab pertama Barbara Oakley memperkenalkan diri dengan menyatakan dia dahulu membenci matematika dan sains tetapi saat ini dia seorang profesor teknik. Hal ini tentu mengejutkan karena insinyur mestinya memiliki pengetahuan yang mendalam dalam matematika dan sains. Barbara Oakley mengatakan saat ini dia benar-benar jago matematika dan sains, dan sangat menyukai keduanya. Bagaimana bisa? Dia menemukan rahasia cara belajar yang baik, yang diungkapkannya dalam buku praktis yang menyenangkan ini.  

Dr. Barbara Oakley dan para pengarang pendampingnya mengawali pembahasan mode pembelajaran terfokus dan difusi. Mungkin Anda belum tahu jika otak memiliki dua mode berpikir yang berbeda. Di sepanjang bukunya ini, dia menggunakan metafora-metafora bermakna untuk membuat konsep-konsep yang kadang rumit menjadi mudah dipahami dan diingat.

Metafora memungkinkan kita menghubungkan apa yang sudah diketahui dengan konsep baru yang sedang dipelajari. Dalam buku ini akan dijumpai banyak metafora: zombi, tautan, tikus, dan gurita. Pengarang menggunakan metafora tersebut agar kita memiliki penghayatan yang lebih baik terhadap sains. Metafora merupakan cara mangkus untuk membantu memahami gagasan-gagasan kunci.

        Mode terfokus berlangsung saat kita berkonsentrasi penuh terhadap sesuatu. Ketika kita membiarkan otak bebas berkeliaran sesukanya, ini merupakan mode difusi. Dr. Oakley menyarankan kita menggunakan mode terfokus yang intens maupun mode difusi yang longgar. Otak perlu diberi kesempatan berada dalam mode difusi sehingga dapat menautkan materi baru dengan pemikiran dan pengetahuan sebelumnya.

            Hal ini sering kali dapat dicapai paling baik dengan beristirahat dari fokus yang terkonsentrasi dan mengerjakan hal lain, seperti berjalan kaki, menengok keluar dari jendela bus, mandi, berkhayal tentang apa saja, atau bahkan pergi tidur. Kemudian, kita mungkin baru menyadari bahwa kita memahami suatu konsep yang sebelumnya luput dari kita, atau mampu menautkan konsep-konsep yang berbeda.

                Jika kita mulai merasa frustrasi, inilah saatnya beralih ke topik lain. Atau berolahraga! Banyak yang meyakini pentingnya berolahraga saat belajar. Selain melancarkan aliran darah ke otak, kegiatan fisik merangsang pertumbuhan dan koneksi (sinapsis) sel-sel baru otak yang selanjutnya membuat kita mampu mengkreasi buah pikiran yang baru.

         Olahraga juga bisa membuat keajaiban lain. Olahraga memungkinkan otak kita menghasilkan zat-zat kimia lain, seperti serotonin dan dopamin. Zat-zat kimia ini membantu kita menghasilkan gagasan-gagasan baru. Zat-zat ini memungkinkan kita melihat bagaimana gagasan-gagasan lama dapat bertaut untuk membentuk gagasan-gagasan baru.

             Kita mengetahui saat tidur sel-sel otak sebenarnya sedikit mengerut sehingga racun-racun dapat dibersihkan dengan mudah. Tidur juga bisa membuat pikiran kita bebas berkeliaran, sering kali secara otomatis menjalin tautan yang sulit dilakukan saat kita berpikir keras. Acap kali saat bangun pagi di pikiran kita telah ada jawaban untuk permasalahan yang pada hari sebelumnya kukuh tak terpecahkan.

        Learning How to Learn secara ringkas mencakup beberapa teknik pembelajaran yang berguna, seperti interleaving (penyisipan)—mempraktikkan berbagai aspek hal-hal yang sedang kita berusaha pelajari sehingga kita memahami perbedaan di antara teknik-teknik tersebut—, linking (penautan) atau chunking (pengelompokan)—proses penyusunan serangkaian brain-links (tautan otak)—, menangani ilusi kompetensi, meningkatkan daya ingat, dan cara mengatasi kebiasaan menunda-nunda pekerjaan. Selain memberi penjelasan mengenai hal-hal tersebut, buku ini juga mengajarkan cara mengubahnya menjadi kelebihan bagi kita.

              Menurut saya, belajar cara mengatasi kebiasaan menunda-nunda pekerjaan sangat berharga. Kepada kita ditunjukkan mengapa memikirkan bahwa kita harus mengerjakan tugas yang sulit atau membosankan terasa menyakitkan, dan mengapa menundanya membuat kita merasa lebih baik untuk sementara waktu. Masalahnya, pada akhirnya kita tetap harus menghadapi tugas tersebut, biasanya dalam keadaan lebih tertekan karena kita hanya memiliki sedikit waktu untuk menyelesaikannya.

           Buku ini memperkenalkan teknik Pomodoro untuk mengatasi kebiasaan menunda-nunda pekerjaan dan lebih banyak menggunakan waktu untuk berpikir secara terfokus. Teknik Pomodoro adalah metode manajemen waktu yang dikembangkan oleh Francesco Cirillo pada akhir 1980-an. Teknik ini menggunakan pengukur waktu untuk membagi pekerjaan ke dalam beberapa interval, biasanya masing-masing selama 25 menit, dipisahkan waktu istirahat sebentar. Setiap interval disebut pomodoro, dari kata dalam bahasa Italia untuk “tomat”, mengikuti pengukur waktu berbentuk tomat yang biasa dipakai di dapur yang digunakan Cirillo ketika masih menjadi mahasiswa.

            Gunakan teknik Pomodoro untuk membangun kemampuan fokus dan santai. Singkirkan semua gangguan, atur pengukur waktu ke 25 menit, fokus, dan kemudian   berikan imbalan kepada diri kita sendiri. Imbalannya—mendengarkan sebuah lagu, berjalan-jalan, atau apapun yang membawa kita ke keadaan santai—mengistirahatkan pikiran kita dari tugas yang ada. Tepatnya, karena kita tidak memikirkan tugas tersebut, di bawah sadar otak bisa menggalang pengetahuan baru.

                Dr. Oakley menekankan bahwa menjalani ujian dan mengingat merupakan cara terbaik untuk menguatkan pembelajaran kita. Kita mendapati swauji justru merupakan alat yang tangguh sebagai persenjataan dalam belajar. Seberapa sering kita membaca dan membaca ulang suatu sumber saat belajar, dan meyakini telah mengetahui materi tersebut, tetapi ternyata mendapati pikiran kita kosong pada saat berusaha mengingatnya?  Sekadar berupaya menjelaskan materi tersebut ke diri kita sendiri, cermin, hewan peliharaan, atau teman bisa membantu proses pembelajaran.

                Teknik-teknik untuk meningkatkan daya ingat juga tercakup di buku ini. Untuk meningkatkan memori jangka panjang, pengarang meminjam lima tip memori Nelson Dellis. Nelson Dellis merupakan juara empat kali Kompetisi Mengingat Amerika Serikat. Lima tip memorinya adalah fokus, praktik, membuat gambaran, menyimpan, dan mengingat kembali. Kita dapat juga menggunakan the memory palace technique (teknik istana memori), lagu, metafora, serta mencatat, mengajar orang lain, atau membayangkan diri kita berada dalam situasi sebagaimana sesuatu yang sedang kita berusaha ingat atau pahami. 

            Salah satu teknik yang benar-benar bermanfaat yang dibahas di buku ini adalah the hard-start technique yang meminta kita membaca lembar soal ujian secara keseluruhan, berusaha mengerjakan soal-soal sulit sebentar, lalu dengan cepat menggarap soal yang mudah jika mengalami kebuntuan. Kemudian, kembali ke soal yang sulit dan kerjakan selama satu atau dua menit hingga kita mengalami kebuntuan lagi, lalu lompat ke pertanyaan mudah berikutnya.

             Otak kita dapat beralih ke mode difusi dan memikirkan jawaban soal yang sulit saat dengan cepat kita mengerjakan soal yang mudah. Teknik ini merupakan sedikit variasi yang efektif atas strategi “kerjakan soal yang mudah terlebih dahulu” yang didukung oleh banyak pendidik. Memakai the “hard-starttechnique membuat kita menggunakan otak sebagai semacam prosesor ganda. Mode difusi dapat segera mengambil alih soal yang sulit saat kita tidak lagi fokus pada soal tersebut. Sementara mode terfokus sedang menangani soal yang lebih mudah, mode difusi bekerja di latar belakang menggarap soal lain yang lebih sulit.

           Learning How to Learn juga menyimpan beberapa kejutan yang berkaitan dengan pembelajaran. Dr. Oakley memberi tahu jika kita meminati apapun, kita bisa menjadi lebih baik dalam hal yang kita minati tersebut jika kita juga sedikit mempelajari hal lain yang lumayan berbeda. Mengapa? Agar kita tidak terjebak pada apa yang disebut “rut think”. Pikiran kita begitu terbiasa berlari di sepanjang neural pathways (jalur-jalur neuron) tertentu sehingga tidak dapat dengan mudah berubah. Kita menjadi kurang lentur dalam berpikir.

          Kita juga diberi tahu bahwa ciri terburuk kita justru bisa menjadi ciri terbaik. Working memory (memori kerja) yang lemah bisa jadi justru bagus. Memori kerja yang lemah bisa membuat kita melihat simplifikasi elegan yang terlewat oleh orang lain dan membuat kita lebih kreatif. Sementara itu, orang yang berpikir “lambat” dapat memahami suatu subjek atau permasalahan sama baiknya dengan orang yang berpikir “cepat”: Orang yang berpikir lambat mungkin membutuhkan waktu lebih lama, tetapi kadang-kadang mereka sebenarnya dapat memahami subjek tersebut dengan lebih baik daripada orang yang berpikir cepat.

         Barbara Oakley merupakan sosok penulis berkualitas yang langka. Tindakannya sesuai dengan kata-katanya dan dia menulis berdasarkan fakta dan sains serta dengan rasa kasih. Learning How to Learn adalah buku tentang bagaimana menjadi pembelajar yang berhasil. Buku ini dapat membantu semua orang yang sedang berusaha menguasai suatu bidang baru, serta sangat mudah dibaca dan diikuti.

How to Succeed in School without Spending All Your Time Studying
oleh Barbara Oakley dan Terrence Sejnowski dengan Alistair McConville
ilustrator               : oleh Oliver Young