Bandung – PT Pos Indonesia mengunjungi Telkom Corporate University dalam rangka benchmark terkait Knowledge and Facility e-Learning, Senin (25/11). PT Pos Indonesia yang diwakili Manajer Pelatihan & Knowledge Management Eko Nirma Fitriani disambut Executive Learning Account Manager (LAM) Telkom CorpU Hendro Isvandiana serta tim dari Knowledge Management and Case Study Telkom CorpU.

Eko dalam welcoming speech-nya mengatakan situasi yang sedang dihadapi bisa kita lewati apabila punya keunggulan kompetitif, yaitu SDM. “Situasi yang sedang kita hadapi rasa-rasanya mungkin sama dengan yang Telkom hadapi juga, adalah situasi yang luar biasa yang kita bisa menang kalau punya keunggulan kompetitif, yaitu SDMnya. SDM yang macam-macam, melek teknologi kalau zaman sekarang, punya knowledge yang cukup, mampu melakukan inovasi tiada henti. Ini kita kemudian bicara bagaimana untuk bisa melakukan tadi artinya perlu sebuah pengelolaan pengetahuan di perusahaan tersebut,” kata Eko.

Pada kesempatan yang sama, Hendro dalam sambutannya mengatakan kita sudah menyiapkan knowledge management jauh-jauh hari untuk menghadapi persaingan yang ketat. “Terkait knowledge management, kami juga tidak menata knowledge management semata-mata dalam hitungan hari. Kami memang sudah mempersiapkan jauh-jauh sebelumnya karena memang yang sudah disinggung tadi bahwa memang untuk menghadapi persaingan yang ketat ini, sumber daya memang menjadi prioritas utama. Satu-satunya asset yang tidak bisa kita lewatkan adalah sumber daya dan pengelolaan sumber daya itu memang salah satunya adalah memang harus meningkatkan kompetensi. Peningkatan kompetensi itu dengan cara learning”, kata Hendro.

Hendro menambahkan bahwa kita harus bisa menyiapkan suatu fasilitas karena learning tidak bisa dibatasi. “Learning itu tidak bisa kita batasi karena sifatnya adalah individu, makanya karena kita tidak bisa batasi, kita harus bisa menyiapkan suatu fasilitas yang dimanapun, kapanpun, dan siapapun bisa menyiapkan dan bisa melakukan learning secara mandiri pada saat dia membutuhkan, jadi tidak harus ada mandatory. itulah makanya dibentuk suatu knowledge management yang dibangun oleh tim Pak Tontowi yang menjadi suatu sarana yang betul-betul bukan diminati tapi dijadikan suatu culture,” tambah Hendro.

Lebih lanjut, Hendro menuturkan knowledge management yang kita bangun sebesar dan sebagus apapun harus menjadi tanggung jawab para karyawan. “Jadi sebesar dan sebagus apapun knowledge management yang kita bangun, kalau culture dan kebutuhannya tidak menjadi tanggungjawab pada karyawan itu sendiri nanti akan mangkrak, jadi tidak cuman diakses lewat laptop tapi dimanapun. Jadi knowledge management ini memang selain sudah disesuaikan dengan kebutuhan, disesuaikan dengan zaman dan eranya,” tutur Hendro.

Setelah sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan foto bersama dan pemaparan materi oleh tim Pak Tontowi dari Knowledge Management and Case Study. (*ykb/nwl/Red01)

850 total views, 1 views today