Surabaya – Dalam hidup bermasyarakat hendaknya saling menghormati, menghargai dan tolong menolong. Tak terkecuali bagi karyawan dan karyawati, sehingga tercipta tim yang solid. Kuliah Tujuh Menit (Kultum) LA-5 kali ini membahas tentang tolong menolong yang disampaikan oleh Dosen ITTS (Institut Teknologi Telkom Surabaya) Walid di Musala Baitul Ilmi LA-5 Jln. Gayungan PTT No. 17-19 Surabaya, Jumat (21/2).

Walid menceritakan betapa Nabi Musa dalam perjalanan di padang pasir menolong dua wanita pengembala ternak yang sedang antri mengambil air untuk ternaknya yang sangat kehausan. Meskipun perjalanan Nabi Musa sendiri begitu lelah, beliau tetap membantu mengambilkan air untuk minum ternak tersebut.

Maka Musa memberi minum ternak itu untuk menolong keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdo’a :”Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. (Q.S Al-Qasas: 24).

Pelajaran yang bisa diambil dari ayat tersebut adalah Nabi Musa tidak menunggu ucapan terima kasih, rekognisi, apresiasi atau bercakap-cakap dengan wanita tersebut, melainkan Nabi Musa berfokus pada ekspektasi dan intensi kepada Allah SWT. Nabi Musa percaya, bahwa apapun yang Allah beri adalah pasti yang terbaik.

Konsep tolong menolong tersebut sebaiknya dipraktikkan dalam kehidupan di masyarakat tak terkecuali di kantor tempat bekerja. Jangan terus merasa tidak puas dan meminta apresiasi atau rekognisi dan sejenisnya, sehingga boleh dibilang tidak ihlas dalam menolong alias ada maunya. Yakinlah Allah pasti memberikan yang terbaik untuk kita. (CorpU_Surabaya/red01)

229 total views, 1 views today