Bandung – Expert Insight Series kembali menghadirkan series selanjutnya di awal bulan Oktober ini yang tentunya tidak kalah menarik dengan series sebelumnya. Expert Insight Series#22 menghadirkan SGM Telkom CorpU Jemy V. Covindo, dengan mengangkat topik “Avoiding Traps in Digital Business Transformation”. Kegiatan disiarkan langsung melalui CloudX dan streaming YouTube di channel Cognitium Studio dengan jumlah peserta sekitar 160 orang pada Kamis, (1/10).

Materi yang disampaikan Jemy terdapat empat topik penting yaitu Digital industry hype, digital transformation roadmap, digital business transformation, benchmark and bottom line.

Jemy mengawali sesinya dengan sebuah pertanyaan, apakah transformasi bisnis digital keberuntungan atau jebakan, yang kemudian disambungkan dengan fenomena gelombang industri 4.0 yang begitu besar karena terjadi produksi secara massal berbasis internet dan terjadi Ubiquitous di mana pergerakan manusia atau data tidak bisa dibedakan karena canggihnya teknologi,

Jemy juga memaparkan lima teknologi utama yang mendukung industri 4.0 terdiri dari Artificial Intelligence, IoT (Internet of Things, Wearable (AR/VR), Advanced Robotics, dan 3D Printing. Teknologi-teknologi tersebut membuktikan revolusi industri tidak hanya mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat luas, tetapi juga merubah cara pandang dan cara pikir manusia, ditambah millennial dan generasi berikutnya yang turut memperkuat industri 4.0. “Permasalahan dengan teknologi disebut seperti pedang, yaitu pedang dengan dua sisi, dia bisa menyelamatkan tapi juga bisa menjadi ancaman,” tambah Jemy.

Jemy membahas tentang “Digital Transformation Starts With Defining Digital Ambition” dalam ambisi untuk melakukan transformasi digital. Hal yang akan terpengaruhi adalah business model, kapabilitas yang berada dalam bagian business model memiliki banyak dimensi dan belum siap untuk diatur kembali, lalu berdampak juga kepada operating model sampai financial model.

“Kita harus mengatur digital ambition dan juga harus sudah tahu current state dan future state perusahaan, serta kemampuan mengidentifikasi gap analysis, baru kita bisa membuat migration plan (rencana migrasi,” tutur Jemy.

Empat pertanyaan yang setidaknya harus terjawab saat ingin melakukan transformasi digital yaitu, apakah kita memiliki strong product, mampu lebih unggul dari market leader, bisa bertahan lebih lama, dan yang terakhir apakah sekarang waktu yang tepat untuk melakukannya.

Materi diakhiri dengan diskusi mengenai benchmark lima perusahaan besar di dunia, Jemy meminta pendapat peserta untuk memilih dari lima perusahaan dengan informasi net income dan revenue, kira-kira perusahaan mana yang ingin dibeli, jawaban peserta pun cukup beragam.

“Coba kita lihat Microsoft, hasil dibagi antara net income dan revenue menunjukkan angka yang lebih besar ketimbang empat perusahaan lainnya, sangat menarik cash cow Microsoft (produk pimpinan pasar) yaitu Windows dan Office cenderung stabil walaupun presentase mengecil, akan tetapi produk terbaru yaitu Microsoft Azure membesar dan siap men-cover bisnis lamanya jika tidak kuat lagi. Ini contoh perusahaan yang bagus untuk melakukan tranformasi digital,” jelas Jemy.

Selain pemaparan materi, acara diselingi tanya jawab dan pemberian tanggapan dari peserta sehingga terjalin interaksi antara pemateri dan peserta yang membuat suasana acara menjadi lebih hidup. (syifa/ola/nwl/red01)

271 total views, 3 views today