Jakarta – Badan Usaha Milik Negara (BUMN) harus terus mengembangkan proses pembelajaran dan inovasi di perusahaannya guna menghadapi tantangan zaman yang kian menantang. Salah satu wujudnya adalah mendirikan BUMN Center of Excellence yang terdiri dari learning institute dan research institute. Keduanya diwajibkan berdiri permanen baik di setiap BUMN maupun kluster sinergi antar BUMN, sehingga bukan sekedar formalitas.

Telkom bersama Produksi Film Negara (PFN), Perusahaan Pengelola Aset (PPA), dan Danareksa yang tergabung dalam Telecommunication and Media Institute (TMI) melakukan launching yang dihadiri oleh Deputi Bidang SDM, Teknologi, dan Informasi Kementerian BUMN Alex Denni melalui Zoom Meeting pada Rabu (30/12).

Launching TMI turut dihadiri CHCO Telkom Indonesia Afriwandi, Direktur Utama PFN Judith J. Dipodiputro, Direktur Utama PPA Yadi Jaya Ruchandi, Direktur SDM & Hukum Danareksa R. Muhammad Irwan, serta semua taskforce ITDRI. Selain TMI, secara keseluruhan ada 12 kluster yang didirikan Kementerian BUMN.

Alex mengatakan dalam konteks transformasi kita dituntut untuk lebih kreatif untuk menjawab tantangan-tantangan dari customer. Oleh karena itu job-job baru yang lahir biasanya membutuhkan skill, knowledge, dan behavior yang baru agar kita bisa survive didalam tatanan dunia yang baru dan ini sebenarnya yang paling kita khawatirkan dalam konteks transformasi.

Terkait comfort zone, Alex menuturkan bahwa terjebak di comfort zone ini adalah istilah yang sangat sering kita dengar dan ini wajar sekali istilahnya, karena lingkar luar dari comfort zone itu adalah zona takut. Jadi kalau kita tidak berhasil menembus zona takut itu, karyawan akan nyaman di comfort zone karena menembus zona takut tadi perlu confidence dan keyakinan bahwa mereka mampu keluar dari sana dan kadang-kadang drive dari internal tidak cukup. Dan kalau kita berhasil menembus comfort zone itu, kita akan masuk ke learning zone yang merupakan opportunity untuk masuk ke growth zone.

Alex mengatakan active learning and learning strategies sebagai salah satu skill yang paling dibutuhkan dalam tahun-tahun kedepan.

“Kalau kita lihat diskusi-diskusi di world economic forum menempatkan active learning and learning strategies sebagai salah satu skills yang paling dibutuhkan dalam tahun-tahun kedepan bukan lagi kompetensi tertentu. Jadi yang paling penting bukan kompetensinya, yang paling penting adalah seberapa cepat orang membangun kompetensi baru yang disebut sebagai active learning and learning strategies. Ini adalah PR terbesar kita oleh karena itu Kementerian BUMN sudah menetapkan prioritas untuk membangun bisnis model yang inovatif, yang sesuai dengan tuntutan zaman, membangun technology leadership, membangun investasi-investasi yang lebih optimal, tentu saja dengan talent sebagai engine-nya dan dengan demikian diharapkan semua BUMN kita betul-betul menjadi economic dan social value untuk Indonesia. Dalam konteks ini, learning, research, and innovation menurut kita menjadi salah satu kunci yang akan mewujudkan proses-proses tersebut. Jadi, the ideas of Center of Excellences adalah menjadikan BUMN sebagai enabler untuk learning, research, and innovation”, kata Alex.

Lebih lanjut, untuk menyiapkan organisasi yang dedicated secara fokus terhadap learning, research, dan innovation kami diminta untuk mendorong setiap cluster memiliki Center of Excellences yang goals-nya adalah melakukan akselerasi terhadap pembentukan world class leaders and talents. Jadi, leaders and talent ini menjadi satu asset yang akan kita jadikan priority untuk develop, kemudian management practices kita yang harus didorong untuk menuju world class agar kita bisa berkompetisi dengan pemain-pemain global, kemudian diharapkan juga khusus spesifik bicara digital capabilities diseluruh BUMN karena eranya adalah era digital, dan kemudian technology specific yang bicara cluster specific. Jadi ada empat goals yang menjadi fokus untuk pengembangan Center of Excellences ini. Karena itu, untuk saat ini sebaiknya dibuat organisasi yang dedicated. Jadi akan ada learning institute dan research institute yang memiliki team yang dedicated.

Dalam kesempatan yang berbeda, CEO Telkom Ririek Adriansyah mengatakan, TMI merupakan wujud nyata Telkom dalam mewujudkan bangsa yang lebih sejahtera dan berdaya saing. Melalui riset, inovasi, dan pembelajaran yang dilakukan secara terpadu, TMI berkontribusi kepada pengembangan ekosistem digital yang kuat serta talenta digital berstandar internasional.

Disamping itu, SGM Telkom Corporate University Jemy V. Confido menjelaskan, pihaknya sebagai pelaksana TMI akan berusaha membawa Indonesia yang saat ini berada di kategori ICT Patron atau lebih banyak berperan sebagai konsumen menjadi digital service powerhouse, bahkan innovation hub melalui peningkatan kapabilitas inovasi yang dimiliki.

“Kami akan berusaha menyelaraskan riset yang ada secara maksimal, menyatukan inovasi yang menyebar dan parsial, serta menghilirisasi hasil riset menjadi peluang inovasi sekaligus menjadikan inovasi memiliki basis riset yang kuat,” sambungnya.

Setelah direction speech, Alex kemudian me-launching TMI yang kemudian dilanjutkan dengan video launching serta statement pembentukan TMI yang dibacakan langsung oleh para Direktur yang hadir dan ditutup dengan foto bersama. (*ykb/nwl/ Red03)

281 total views, 1 views today