Umumnya, mayoritas karyawan dan perusahaan hanya berfokus di formal learning dan structured learning untuk menunjang karirnya. Nyatanya, masih ada experiential learning dan social learning yang kerap dikesampingkan. Sebagai perusahaan, sudah menjadi tugas dan kewajiban untuk mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) guna mendongkrak produktivitas.

 

Diperkenalkan oleh 3 peneliti dan penulis Morgan McCall, Michael M. Lombardo and Robert A. Eichinger, pada tahun 1980 Model Pembelajaran 70:20:10 diperkenalkan dan banyak digunakan oleh organisasi untuk meningkatkan efektifitas. Dengan formula 70% experiential learning, 20% social learning, dan 10% formal learning, nyatanya terbukti dapat meningkatkan kemampuan karyawan secara efektif sesuai kebutuhan bisnis organisasi. Sudah sejak lama TelkomGroup menerapkan kombinasi dari metode tersebut, semenjak menerapkan hal itu culture perusahaan terasa lebih kolaboratif antar individu dan unit lain. Contoh nyatanya ialah program Great People Trainee Program (GPTP) dan Great People Development Program (GPDP). 

 

Berbincang mengenai hal itu, Prasasty Sofiantiany sebagai Manager Learning Development Corporate Business & Gtm menjelaskan bahwa karyawan dapat belajar dari orang lain melalui berbagai interaksi dan kegiatan yang mencakup pembelajaran sosial, pembinaan, pendampingan, pembelajaran kolaboratif, dan metode interaksi lainnya dengan teman rekan kerja. Pengalaman yang dirasakan langsung oleh karyawan secara tidak langsung membuat mereka paham dengan bisnis perusahaannya. Hal itu dapat meningkatkan keterampilan terkait, membuat keputusan, mengatasi tantangan, dan berinteraksi dengan orang-orang berpengaruh seperti supervisor, manager, dan mentor dalam lingkungan kerja. 

“Kuncinya adalah dorongan dan umpan balik adalah manfaat utama dari pendekatan pembelajaran yang berharga yang karyawan dapatkan. Berbagai interaksi dan rintangan yang dihadapi membuat karyawan dapat menyelesaikan tantangan dengan cara yang baru.” jelasnya.

Penjelasan lebih lengkapnya, Model Pembelajaran 70:20:10 menerapkan metode 70% pembelajaran dapat dilakukan melalui pengalaman. Dalam artian, peserta akan terjun langsung dengan diberikan tugas atau tantangan. Melalui tugas proyek yang diberikan, peserta diharapkan dapat mengasah kemampuan problem-solving dan juga dapat belajar dari apa yang telah terjadi. 

Selanjutnya, 20% peserta melakukan pembelajaran secara sosial. Dapat dikatakan, peserta menerima pembelajaran melalui orang lain. Tak mengherankan, apabila bentuk dari proses ini adalah berupa coaching, mentoring, komunitas praktis, dan bahkan dapat menggunakan collaboration platforms. 

Terakhir, 10% pembelajaran peserta dilakukan secara formal learning atau structured learning. Seperti namanya, metode pembelajaran ini memerlukan proses pembelajaran formal di kelas pada umumnya. Misalnya workshop, seminar, online learning, atau melakukan pelatihan. Pembelajaran secara formal dapat memberikan gambaran kepada peserta terhadap materi yang diberikan untuk menunjang experiential learning.

(M. Reza Firdaus)

 

48 total views, 5 views today